Khonsa' Fathimah al Durroh

Sunday, June 04, 2006

LOGIKA BONSAI

Bonsai....

Pohon itu menjadi tanaman prestise, pohon yang bergengsi, katanya. Kok bisa?! Ya, katanya sih ini justru karena bentuknya yang kerdil tapi indah (katanya lagi!).

Bonsai...

Sebenarnya saya tidak habis pikir dengan Si kerdil ini. Bagaimana dia bisa mengambil hati beberapa manusia untuk merogoh koceknya dan mengeluarkan uang yang jumlahnya tak sedikit hanya untuk membeli dan menikmati memandang tubuhnya yang kerdil. Ya, saya akui pohon ini memang terlihat unik dengan kekerdilannya. Dan saya juga tidak memungkiri bahwa pohon ini memang indah dipandang dengan kekhasan bentuknya. Tapi, saya juga tak bisa menyangkal tentang pengurangan peranan pada si kerdil itu dan bagaimana ia pun mengambil alih peranan tumbuhan yang lain.

Tumbuhan dicipta untuk memenuhi kebutuhan manusia, sehingga dengannya manusia –harus- dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya sebagai kholifatul fil ardh. Beberapa diantara mereka (khususnya yang sering di-kerdil-kan) dijadikan sebagai makhluk yang autotrof. Dapat membuat makanannya sendiri dan kemudian dia dapat pun menjadi bahan makanan bagi makhluk lainnya. Dengan kelebihan yang khusus diberikan oleh Sang Kholiq padanya, tumbuhan pun dapat menjalankan sirkulasi udara, mengubah CO2 menjadi O2, sehingga dapat bermanfaat bagi makhluk yang lain. Selain itu, akar-akar dari tumbuhan pun berfungsi sebagai penahan air, sehingga tanah dapat menyimpan bahan berharga ini dan longsor pun dapat teratasi.

Dan kini, mari kita tengok Si kerdil itu. Dengan tubuhnya yang mungil, daun yang terbatas, dan akar yang relatif pendek. Dapatkah dia menjalankan fungsinya dengan optimal? Bandingkan lah dengan tanaman sejenisnya yang tidak berprestise tinggi (baca: tidak dikerdilkan/dibonsaikan)!

Saya yakin tidak.

Jadi saya pikir, bonsai-bonsai itu hanya menawarkan kesenangan yang sejenak, keindahan yang tak bagitu berarti dan kesejukan yang semu. Dia tak lagi dapat menghasilkan banyak oksigen. Tak lagi dapat menyerap air dengan maksimal. Tak lagi dapat menghasilkan banyak sumber protein nabati. Tak lagi dapat meneduhkan dari terik mentari... Ya, fungsinya pun kini telah terkerdilkan sebagaimana tubuhnya.

Islam...

Lho, apa hubungannya Islam dengan bonsai???

sabar... sabar...!

Islam...

Kini semakin dipersempit ruang geraknya. Semakin dipangkas pemikirannya. Semakin dibatasi pembahasannya. Semakin dilemahkan gaungnya. Bahkan semakin dikerdilkan maknanya.

Ya, kini Islam dibatasi hanya pada ibadah ritual semata. Islam disamaratakan dengan agama-agama lain yang hanya membahas hubungan vertikal antara manusia dengan Penciptanya. Islam kini hanya diizinkan beraktifitas di masjid-masjidnya (yang kini juga di sakralkan hanya untuk ibadah sholat dan sejenisnya).

Padahal, Islam tak sesempit itu. Islam adalah ad-dîn yang menyeluruh dan sempurna, yang membahas hubungan hamba dengan Robb-nya dan dengan sesamanya. Islam menyangkut seluruh aspek hidup manusia. Dan masjid pun bukan hanya sebgai tempat ibadah ritual semata, tetapi merupakan pusat segala aktifitas insan bertaqwa.

Inilah alasan saya menganalogikannya dengan bonsai. Islam kini diperlakukan seperti bonsai!

Islam telah dipangkas dengan sekulerisme dan dikerdilkan oleh nasionalisme dan kawan-kawannya. Islam di-bonsai-kan oleh logika-logika yang kerdil. Mungkin, sepintas pengkerdilan ini nampak indah. Ketika ummat merasa bertemu Robb-nya hanya saat ia sedang sholat, ketika ummat memakai hukum Islam hanya dalam ibadah ritual semata, ketika Islam hanya berada di masjid-masjid yang sepi dari jamaah.Ya, mungkin ini nampak indah dan mudah bagi ummat –yang kini sudah jauh dari pemahan Islam yang hakiki. Tapi sungguh, ini adalah keindahan yang semu.

Seperti halnya bonsai, Islam yang dikerdilkan pun menjadi kehilangan fungsi sejatinya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita –sebagai ummat Islam- harus membayar mahal atas pengkerdilan ini!

Padahal ALLOH ta’ala menurunkan Islam untuk memuliakan ummat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta. Namun saat Islam telah mengalami distorsi sedemikian rupa, maka tak ada jalan baginya untuk dapat memuliakan manusia dengan keagungannya, membahagiakan manusia dengan keindahan hakikinya, dan merahmati semesta dengan aturan-aturannya.

Maka tak ada cara lain untuk mengmbalikan keadaan Islam yang sesungguhnya –sehingga ia dapat melahirkan kemuliaan yang diturunkan bersamanya-, selain mengmbalikannya pada bentuk aslinya yang menyeluruh, sempurna, dan agung. Tak boleh ada pembatasan/pemisahan dalam hukum-hukumnya. Ia harus diimani dan diterapkan secara kâffah, barulah ia akan menjadi apa yang merupakan fitrahnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home