Khonsa' Fathimah al Durroh

Wednesday, February 14, 2007

Dilema Kasih yang Tertahan

Hari keramat itu muncul kembali. Ya, 14 Februari. Hari yang katanya penuh dengan kasih sayang. Hari dimana coklat, mawar, dan warna merah muda bertebaran dimana-mana. Namun, benarkah 14 Februari seindah itu?!

Jika kita merujuk sejarah munculnya Valentine Day, baik dari kitab-kitabnya kafir Barat maupun ensiklopedia dunia, maka kita akan mendapati banyak versi yang berbeda sata sama lainnya. Namun saya tidak bermaksud menjabarkan macam-macam versi history tersebut. Karena disamping sudah terlalu banyak yang membehas tentang hal itu, V’ Day juga jelas bukan berasal dari Islam! Jadi untuk apa kita memperdebatkannya?! Cukuplah kita ingat dengan firman-Nya ta’ala: “Tidak akan pernah ridho Yahudi dan Nashrani hingga kalian mengikuti millah mereka..”, juga sabda Rosul saw.: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu.”.

Dalam coretan singkat ini, saya hanya ingin mengajak kalian melihat sisi lain di tanggal 14 ini. Sisi lain yang mungkin sering kali terabaikan. Sebuah sisi dalam otak saya J.

Sejak dahulu V’ Day selalu digaungkan oleh kafir Barat (terlepas dari sejarah versi mana yang shohih) ke seluruh dunia, tak terkecuali dunia Islam. Dan yang lebih menykitkan lagi, gaung ini semakin keras ketika mereka telah berada pada jarak yang sangat dekat dengan telinga-telinga generasi muda. Ya, generasi penerus Islam. Lalu mengapa saya katakan itu menyakitkan, padahal sang pengusung V’ Day sendiri menyatakannya sebagai Hari Kasih Sayang?!

Klaim tetaplah hanya sekedar klaim. Siapa pun berhak memberikan klaim tentang apa pun dan bagaimana pun. Dan setiap orang pun berhak menolak atau menerima sebuah klaim, tentang apa pun dan bagaimana pun. Jadi sesungguhnya sebuah klaim sama sekali tidak bermakna, kecuali jika ia bersesuaian dengan fakta.

Selanjutnya, bagaimana dengan klaim kaum kafir Barat terhadap tanggal 14 Februari yang katanya hari kasih sayang?! Mari kita lihat faktanya...!

Mungkin memang benar, bahwa pada tanggal 14 Februari ini, mereka (baca: kafir barat) saling mencurahkan kasih sayangnya kepada sesama. Ya, mungkin sesama manusia, keluarga, teman, atau pasangan mulai dari yang resmi sampai yang ilegal. Mulai dari berbagi coklat, mawar, pernak-pernik merah muda, bahkan sampai ucapan “Be my Valentine”. Dan tradisi ini pun terus mereka tularkan pada kaum muslimin, hingga akhirnya tak sedikit dari kaum muslimin yang terjangkit virus mematikan ini.

Ya, ini adalah virus yang mematikan! Lihatlah bagaimana para pasien penderitanya pun tidak menyadari bahwa mereka tengah sekarat! Mereka terjerumus dengan kasih sayang yang semu yang justru menjerumuskan. Dan mereka pun tertipu dengan mengira bahwa kafir barat adalah orang-orang baik yang penuh dengan kasih dan sayang. Hanya karena sebuah tanggal, 14 Februari!

Memang, kita akui bahwa mereka telah menyebarkan warna merah muda yang begitu indah pada hari Valentine ini. Tetapi ingatlah, hanya 14 Februari saja! Ya, hanya SATU HARI saja! Selanjutnya, lihatlah bagaimana hari-hari mereka digenangi oleh merah darah kaum muslimin di berbagai belahan dunia Islam!!! Bahkan tak terkecuali pada tanggal ini pun (yang katanya hari kasih sayang), saya yakin mereka belum berhenti untuk membantai kaum muslimin. Dan perang ini memang tak kan pernah usai! Ini sudah menjadi janji-Nya ta’ala bahwa mereka tidak akan pernah ridho pada kita!

Lalu, dimana letak kasih sayang yang mereka gaungkan itu?!


A’udzu biLLahi ar-Rohmani ar-Rohimi mina al-yaumi ‘al-Falintin’.

Wednesday, November 22, 2006

Do'a dan Hikmah

Ya Robbi, kirimkanlah pasukan-pasukanmu...
Baik berupa malaikat-malaikat yang taat,
mukminin yang kuat,
puting beliaung yang dahsyat,
hujan batu yang deras,
guntur yang menggelegar,
rusa-rusa yang bertanduk tajam,
cacing-cacing istana yang tak sudi rumahnya diinjak kaki-kaki ahlun-Nar,
atau semut-semut kebun raya yang tak rela rumahnya diusik helipad.
Ya ALLOH, sungguh tak ada yang dapat menghalangi kuasa-Mu.

Ini adalah do'a yang terpanjat di pagi hari 20 November 2006, menjelang kedatangan bencana di negeri ini...
Memang, Robb-ku 'tidak' memberikan apa yang ku mau. Tapi sungguh, Robb-ku Maha Pengabul do'a. Dia Maha Tahu! Bahkan sesungguhnya, Dia telah mengabulkan do'aku! meskipun dalam cara yang belum kuketahui.
Tapi sungguh ada hikmah yang besar dibalik semua ini!
Mungkin makhluk laknat berhasil datang ke negeri ini dengan aman. Tapi sungguh, sikapnya telah membuktikan bahwa dia tak pernah merasa aman dari azab Robb Semesta Alam.
Mungkin makhluk laknat itu telah kembali ke negerinya dengan selamat. Tapi sungguh ada pelajaran besar bagi kita!
Ya... kita terlalu lemah jika kita hanya bisa berdo'a memohon kehancuran bagi mereka. Lihatlah kesana! ke Palestina, Afghanistan, Chechnya, Bosnia,..., dan negeri-negeri muslim terjajah lainnya. Adakah suatu kemuliaan tanpa perjuangan???!!!
Ya... kita terlalu rendah jika kita hanya berpangku tangan sambil berucap penuh harap tanpa berusaha bergerak. Tengoklah kesana! ke Palestina, Afghanistan, Chechnya, Bosnia,..., dan negeri-negeri muslim terjajah lainnya. Adakah sebuah kemenangan tanpa pengorbanan???!!!

NB: tanpa meremehkan -meski secuil- betapa dahsyatnya kekuatan do'a!

Friday, November 03, 2006

'Ied MuBaRoK

Phuff.....
Sudah lama tidak posting.
Terlalu banyak yang harus dikerjakan.
Sampai tak keluar ucapan selamat Romadhon.
ya... seoga kali ini pun tak terlambat
untuk sekedar mengucapkan
'Ied Mubarok!
SeLaMat 'IeduL Fitri 1427 H
TaQoBbaLaLLoHu miNna wa MiNKum

...Maaf atas ucap dan sikap yang mungkin tersalah... :)

- teriring do'a, semoga kita disampaikan-Nya pada Romadhon yang akan datang dengan kualitas aqidah yang makin menghujam dan ibadah yang kian menjulang -

Tuesday, August 22, 2006

Kita TAK MERDEKA!

Kita belum merdeka, Kawan!

Tidak!
Jangan katakan kita merdeka!

Jangan katakan kita telah merdeka
Saat kita masih harus terpaku pada dolar
Saat Amerika masih dijadikan kiblat
Saat gerak-gerik kita dibatasi
Saat mulut-mulut kita dibungkam, bahkan ditodong dengan senapan
Saat makhluk-makhluk kera bercokol di negeri-negeri kita
Saat thogut-thogut masih menguasai negeri kita
Kita belum merdeka, Kawan!


Tidak!
Kita memang tidak merdeka, Kawan!
Karena kita adalah hamba
Dan Dia lah pemilik kita
Karena kita tak punya pilihan terhadap-Nya
selain menuruti apa yang diingini-Nya

Ya, karena justru itulah kemerdekaan
Kemerdekaan yang sesungguhnya
Saat kita menjadi hamba-Nya
Dengan sepenuh jiwa dan raga


>> Khonsa' :
bwt smua, afwan jiddan... saya baru bisa posting lagi. Maklum sibuk :)

Sepenggal Kisah MAKHLUK-MAKHLUK TERJAJAH

Merdeka?? Siapa yang bilang kita merdeka?! Di mana letak kemerdekaan itu?
Mungkinkah kemerdekaan itu ada di tengah-tengah rakyat yang kemiskinan? Atau di antara tubuh-tubuh kecil yang kehilangan nyawa karena busung lapar? Ataukah diantara gunung-gunung hutang dalam negeri yang kian meninggi? Atau... mungkinkah kemerdekaan ada di balik kebijakan yang tidak pernah bijak karena selalu dikendalikan oleh musuh-musuh kita dari balik layar???

Hhh...! Sudahlah, kawan! Akui saja kalau kita memang belum merdeka! Ya, kita masih dijajah!

Apa susahnya mengakui bahwa kita memang masih dijajah?! Bukankah kita selalu mengikuti kemauan para kafir barat itu? Bukankah kita selalu terpaku pada ‘bantuan’ luar negeri dari mereka? Bukankah kita tidak bisa mengendalikan urusan dalam negeri kita sendiri? Bukankah kita tidak menguasai kekayaan alam kita sendiri? Bahkan, bukankah kita menjadi babu di negeri kita sendiri dan musuh-musuh kita menjadi tuannya?!

Ya, kita memang sedang dijajah! Lalu, bagaimana mungkin kita mengatakan merdeka?! Ini negeri kita, ini kekayaan alam kita, ini milik kita! Tapi kenapa kita harus memeras keringat untuk mengolahnya, sedangkan mereka yang menikmatinya?!
Terjajah di negeri ‘merdeka’?! Tepat!

Mungkinkah kita memperingati hari bersejarah ini hanya untuk ‘menghormati’ jasa para pahlawan? Atau mungkinkah kita mengatakan “Merdeka” dan merayakannya hanya untuk sedikit menghibur tubuh-tubuh yang kelaparan karena hutang yang makin mencekik, yang sebetulnya tak pernah mereka lakukan bahkan tak pernah mereka rasakan?! Ya, sekedar menghibur dan menjadikan mereka sedikit bergembira dengan statment bahwa “Kita telah merdeka”.

Ah, saya terlalu malu pada Robb-ku untuk mengatakan “Merdeka”. Karena hukum-hukum-Nya pun masih ‘dijajah’ oleh hukum-hukum kafir. Karena syari’at-Nya pun masih ‘dijajah’ oleh aturan-aturan kerdil buatan manusia. Karena begitu banyak thogut yang berusaha menjajah kerajaan Yang Maha Menguasai.

Ya, seharusnya kita malu pada Robb semesta alam untuk sekedar mengatakan “Merdeka”. Karena kita adalah hamba, dan Dia lah Yang Maha Memiliki. Dia lah majikan kita. Dia lah pemilik kita, sementara belum semua perintah-Nya kita tegakkan, dan belum semua larangan-Nya kita tinggalkan.

Ampuni kami, ya Robb...Merdekakan kami dengan menghambakan diri sepenuhnya pada-Mu...

Friday, June 09, 2006

Kamilah REVOLUSI

Kebenaran semakin samar. Kezholiman semakin memuncak. Dan bumi pun semakin mendekati ajalnya... Maka tak ada kata lain bagi kami, selain perubahan. Ya, REVOLUSI, bukan reformasi!

Jangan samakan revolusi kami dengan revolusi mereka! Revolusi kami bukan revolusi industri! Revolusi kami tak seperti revolusi Perancis! Revolusi kami berbeda dengan revolusi Bolsjevik! Revolusi kami tak sama dengan Revulucao dos Cravos (Revolusi Bunga)!

Revolusi kami bukan revolusi merah! Revolusi kami tidak dengan kekerasan. Revolusi kami tanpa pertumpahan darah. Dan revolusi kami pun anti pembumihangusan.

Revolusi kami tak seperti Revolusi Hijau atau Revolusi Biru, yang hanya menyelesaikan sebagian masalah. Revolusi kami adalah revolusi yang menyeluruh. Revolusi kami adalah revolusi total!

Revolusi kami bukan sekedar utopi! Revolusi kami adalah revolusi yang pasti! Revolusi yang hakiki dengan bimbingan Ilahi! Ya, revolusi kami revolusi yang suci, yang sesuai dengan metode nabi!

Kami akan tetap bergerak. BEREVOLUSI! Karena hanya ada dua pilihan bagi kami; menjadi pemenang atau hancur bersama ideologi kami! Dan yang manapun kesudahan revolusi kami, maka kami akan tetap berada dalam kemuliaan. Karena kami berada di jalan Yang Maha Mulia!

Maka tak ada kata rugi dalam revolusi kami! Dan revolusi kami tak kenal kata henti! Revolusi ini revolusi sampai mati! Karena kami tak sekedar revolter, tapi kami lah revolusi itu sendiri!

Sunday, June 04, 2006

LOGIKA BONSAI

Bonsai....

Pohon itu menjadi tanaman prestise, pohon yang bergengsi, katanya. Kok bisa?! Ya, katanya sih ini justru karena bentuknya yang kerdil tapi indah (katanya lagi!).

Bonsai...

Sebenarnya saya tidak habis pikir dengan Si kerdil ini. Bagaimana dia bisa mengambil hati beberapa manusia untuk merogoh koceknya dan mengeluarkan uang yang jumlahnya tak sedikit hanya untuk membeli dan menikmati memandang tubuhnya yang kerdil. Ya, saya akui pohon ini memang terlihat unik dengan kekerdilannya. Dan saya juga tidak memungkiri bahwa pohon ini memang indah dipandang dengan kekhasan bentuknya. Tapi, saya juga tak bisa menyangkal tentang pengurangan peranan pada si kerdil itu dan bagaimana ia pun mengambil alih peranan tumbuhan yang lain.

Tumbuhan dicipta untuk memenuhi kebutuhan manusia, sehingga dengannya manusia –harus- dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya sebagai kholifatul fil ardh. Beberapa diantara mereka (khususnya yang sering di-kerdil-kan) dijadikan sebagai makhluk yang autotrof. Dapat membuat makanannya sendiri dan kemudian dia dapat pun menjadi bahan makanan bagi makhluk lainnya. Dengan kelebihan yang khusus diberikan oleh Sang Kholiq padanya, tumbuhan pun dapat menjalankan sirkulasi udara, mengubah CO2 menjadi O2, sehingga dapat bermanfaat bagi makhluk yang lain. Selain itu, akar-akar dari tumbuhan pun berfungsi sebagai penahan air, sehingga tanah dapat menyimpan bahan berharga ini dan longsor pun dapat teratasi.

Dan kini, mari kita tengok Si kerdil itu. Dengan tubuhnya yang mungil, daun yang terbatas, dan akar yang relatif pendek. Dapatkah dia menjalankan fungsinya dengan optimal? Bandingkan lah dengan tanaman sejenisnya yang tidak berprestise tinggi (baca: tidak dikerdilkan/dibonsaikan)!

Saya yakin tidak.

Jadi saya pikir, bonsai-bonsai itu hanya menawarkan kesenangan yang sejenak, keindahan yang tak bagitu berarti dan kesejukan yang semu. Dia tak lagi dapat menghasilkan banyak oksigen. Tak lagi dapat menyerap air dengan maksimal. Tak lagi dapat menghasilkan banyak sumber protein nabati. Tak lagi dapat meneduhkan dari terik mentari... Ya, fungsinya pun kini telah terkerdilkan sebagaimana tubuhnya.

Islam...

Lho, apa hubungannya Islam dengan bonsai???

sabar... sabar...!

Islam...

Kini semakin dipersempit ruang geraknya. Semakin dipangkas pemikirannya. Semakin dibatasi pembahasannya. Semakin dilemahkan gaungnya. Bahkan semakin dikerdilkan maknanya.

Ya, kini Islam dibatasi hanya pada ibadah ritual semata. Islam disamaratakan dengan agama-agama lain yang hanya membahas hubungan vertikal antara manusia dengan Penciptanya. Islam kini hanya diizinkan beraktifitas di masjid-masjidnya (yang kini juga di sakralkan hanya untuk ibadah sholat dan sejenisnya).

Padahal, Islam tak sesempit itu. Islam adalah ad-dîn yang menyeluruh dan sempurna, yang membahas hubungan hamba dengan Robb-nya dan dengan sesamanya. Islam menyangkut seluruh aspek hidup manusia. Dan masjid pun bukan hanya sebgai tempat ibadah ritual semata, tetapi merupakan pusat segala aktifitas insan bertaqwa.

Inilah alasan saya menganalogikannya dengan bonsai. Islam kini diperlakukan seperti bonsai!

Islam telah dipangkas dengan sekulerisme dan dikerdilkan oleh nasionalisme dan kawan-kawannya. Islam di-bonsai-kan oleh logika-logika yang kerdil. Mungkin, sepintas pengkerdilan ini nampak indah. Ketika ummat merasa bertemu Robb-nya hanya saat ia sedang sholat, ketika ummat memakai hukum Islam hanya dalam ibadah ritual semata, ketika Islam hanya berada di masjid-masjid yang sepi dari jamaah.Ya, mungkin ini nampak indah dan mudah bagi ummat –yang kini sudah jauh dari pemahan Islam yang hakiki. Tapi sungguh, ini adalah keindahan yang semu.

Seperti halnya bonsai, Islam yang dikerdilkan pun menjadi kehilangan fungsi sejatinya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita –sebagai ummat Islam- harus membayar mahal atas pengkerdilan ini!

Padahal ALLOH ta’ala menurunkan Islam untuk memuliakan ummat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta. Namun saat Islam telah mengalami distorsi sedemikian rupa, maka tak ada jalan baginya untuk dapat memuliakan manusia dengan keagungannya, membahagiakan manusia dengan keindahan hakikinya, dan merahmati semesta dengan aturan-aturannya.

Maka tak ada cara lain untuk mengmbalikan keadaan Islam yang sesungguhnya –sehingga ia dapat melahirkan kemuliaan yang diturunkan bersamanya-, selain mengmbalikannya pada bentuk aslinya yang menyeluruh, sempurna, dan agung. Tak boleh ada pembatasan/pemisahan dalam hukum-hukumnya. Ia harus diimani dan diterapkan secara kâffah, barulah ia akan menjadi apa yang merupakan fitrahnya.